Aturan Hambat Penanganan AIDS
Jumlah Kasus Tertinggi di Kota Bandung.Nusa Dua- Kompas- terselip diantara sekitar 2000 poster sepanjang koridor Bali International Convention Center, di papan nomor 181 terdapat poster tentang penularan HIV/ AIDS di Kota Bandung, Jawa Barat.
Bercerita tentang penerapan aturan di kota itu, poster seakan mewakili aturan di sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik yang disadari atau tidak turut menghambat upaya penanggulangan HIV/ AIDS.
Kurangnya pemahaman terhadap penyebaran HIV/AIDS memunculkan peraturan-peraturan yang makin merentankan kelompok berisiko. Hal itu dibahas khusus dalam sidang pleno hari ketiga Kongres International ke-9 AIDS untuk Kawasan Asia Pasifik (ICAAP ke-9) di Nusa Dua, Bali. Kyung Wha-kang, Wakil Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, sebagai pembicara kunci mengingatkan, korban utamanya selalu perempuan dan anak-anak.
Jeffrey O’Malley, Direktur AIDS untuk program Pembangunan PBB (UNDP), mencatat di Asia Pasifik hampir semua negara melarang keberadaan pekerja seks dan 12 negara melarang hubungan homoseksual. Hanya lima negara yang melegalkan metadon sebagai substitusi obat untuk mengatasi ketergantungan pada narkotika dan hanya empat negara menjaga hak-hak orang dengan HIV/AIDS.
Di poster tampak petugas keamanan menyegel kawasan prostitusi Saritem di Bandung. Di bawahnya ada catatan tentang Peraturan Daerah No 3 Tahun 2005 yang berisi larangan keberadaan anak jalanan, pengemis dan pekerja seks.
Dampak aturan
Dibuat oleh Impact Project bekerja sama dengan Klinik Mawar dari perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bandung dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, di bagian lain ditulis dampak aturan, dari para pekerja seks yang tersebar yang menyulitkan penyuluhan kesehatan, rendahnya pengadaan kondom di tempat berisiko karena takut digerebek, sampai tidak memadainya layanan kesehatan untuk mereka.
Ini diperkuat UU No 10/ 1992 tentang kependudukan, yang menyatakan hanya pasangan laki-laki dan perempuan sudah menikah yang boleh mengakses pelayanan kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana.
Akhir Desember 2008, data Departemen Kesehatan menunjukkan Bandung adalah kota dengan jumlah orang dengan HIV/AIDS tertinggi di Indonesia, yakni 1.856 kasus, jauh di atas Bekasi, 421 kasus.
“Banyak negara menghukum orang-orang yang dianggap menyebarkan HIV/AIDS. Akibatnya orang yang terinfeksi takut melapor dan tidak dapat mengakses pengobatan,” kata Kyung.
Seperti diungkapkan Jon Ungphakorn, Ketua AIDS Access Foundation Thailand, untuk mengefektifkan penanggulangan HIV/AIDS perlu perubahan caa pandang masyarakat terhadap kelompok rentan. (EVY/IJ/NES)
Sumber: Kompas, Rabu 12 Agustus 2009