YPKP Forum
September 10, 2010, 01:43:57 PM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: SMF - Just Installed!
 
   Home   Help Search Gallery Login Register  
Pages: [1]
  Print  
Author Topic: Kemitraan dalam Upaya Percepatan Penurunan AKI  (Read 716 times)
admin
Administrator
Jr. Member
*****
Posts: 89


View Profile Email
« on: August 13, 2009, 03:08:29 PM »

Report Semiloka

“Kemitraan dalam Upaya Percepatan Penurunan AKI”

Diselenggarakan oleh APPI (Aliansi Pita Putih Indonesia)
di Hotel Horison Bekasi, 22 Juli 2009
Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi topik yang kerap dibahas dalam berbagai forum.  Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI) mengadakan semiloka yang bertema “Kemitraan dalam Upaya Percepatan Penurunan AKI.” Acara dihadiri oleh sekitar 50 peserta, perwakilan dari berbagai organisasi pemerhati kesehatan perempuan.  

Acara dimulai tepat waktu, dibuka dengan laporan ketua panitia yang disampaikan oleh Wastidar Musbir, SKM, dilanjutkan dengan sambutan ketua presidium APPI (Dr. Srihartati P. Pandi, MPH) dan terakhir adalah sambutan sekaligus pembukaan oleh deputi II kementrian pemberdayaan perempuan yang disampaikan oleh Dra. Setiawati, MSc.

Pembicara yang hadir adalah
1.   dr Adang Bachtiar, MPH, ScD (Aliansi Strategis Mencapai MDG 4-5)
2.   Prastuti Soewondo, SE, MPH (Kematian Ibu, Benarkan Kerugian Ekonomi Keluarga??)
3.   Linda Agum Gumelar, S. IP (Peran dan Pengalaman KOWANI dalam Kemitraan)
4.   Chatarina Wahyuni (Pengalaman PKBI dalam Kemitraan
5.   Dr Srihartati P. Pandi, MPH ( Pengalaman PPI dalam kemitraan)

Dalam presentasinya, dr. Adang menyatakan bahwa upaya menurunkan angka kematian ibu membutuhkan kerjasama lintas sektoral, tidak hanya keterlibatan sektor kesehatan saja tetapi juga dari sektor pendidikan, kepemerintahan, infrastruktur dan keluarga. Itu sebabnya kita harus beraliansi dalam karena kemampuan kita sangat terbatas untuk melingkupi semua sektor. Aliansi adalah rangkaian, dengan demikian setiap lokus (bagian dari rangkaian) adalah rasional, penting dan berperan.

Agar aliansi berhasil maka tidak boleh dibatasi struktur birokrasi, tempat dan waktu. Yang paling perlu diperhatikan dari aliansi adalah komunikasi, karena ancaman terhadap aliansi tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam. Komunikasi penting karena dalam merekrut anggota aliansi membutuhkan komunikasi yang baik, sabar dan memotivasi. Pembinaan aliansi perlu dilakukan terus menerus. Misi komunikasi yang baik adalah budaya aliansi yang menyenangkan.

Sementara itu, Prastuti Soewondo mengatakan bahwa kematian ibu karena proses kehamilan, bersalin dan nifas sesungguhnya dapat dihindari.  Dulu AKI mencapai 307 (SDKI, 2003) sekarang turun menjadi 228 (SDKI, 2007). Studi IMPACT di Banten, menemukan dari 328 kasus kematian ibu 65% diantaranya terjadi di rumah, 32% di fasilitas kesehatan  dan sisanya meninggal dalam perjalanan.

Lebih jauh dikatakan bahwa kematian ibu tinggi terjadi pada keluarga miskin karena kendala finansial. Walaupun beberapa daerah menerapkan kebijakan biaya persalinan gratis (Jamkesmas), keadaan geografi dan kendala tansportasi menyebabkan sebagian masyarakat tidak bisa mengakses tempat pelayanan.

Jamkesmas yang ditawarkan pemerintah mempunyai masalah dalam target marketingnya.  Kategori miskin masih belum jelas, apakah miskin karena memang jiwanya miskin (suka meminta atau senang dikasihani) atau orang yang sering sakit-sakitan?  Seharusnya, sekalipun masuk dalam kategori golongan ekonomi menengah (tidak kaya dan tidak miskin), bila seseorang karena kondisinya mengharuskan dia berobat bolak-balik ke rumah sakit yang menyebabkan pengeluaran (biaya rumah sakit) lebih besari dari pemasukan (penghasilan), sharusnya ter-cover dalam jamkesmas. Contohnya orang yang berpenghasilan 3 juta sebulan namun jika harus berobat bolak balik dalam sebulannya bisa menghabiskan sebanyak 5 juta per bulannya untuk pengobatan, tentu saja orang tersebut tidak dapat menikmati program jamkesmas.

Menurut Prastuti, kemiskinan sangat dipengaruhi pada usia nikah.  Mengambil contoh studi empiris di Mexico, dikatakan bahwa laki-laki yang menikah di bawah umur kemungkinan untuk menjadi miskinnya lebih tinggi sebanyak 2 kali. 

Kehilangan ibu berdampak pada faktor perilaku yang berpengaruh pada sumber daya manusia karena:
1.   Meningkatkan probabilitas anak yang tidak terdaftar bersekolah
2.   Meningkatkan probabilita kematian anak
3.   Meningkatkan probabilitas kesakitan anak

Berapa besar kerugian ekonomi karena kematian ibu?
1.   Direct cost:
a.   Biaya provider: biaya obat, biaya pemeriksaan, dll
b.   Biaya konsumen: transport, makan, dll
2.   Indirect cost: hari produktif yang hilang
a.   Dampak indirect cost sangat besar karena perempuan mengerjakan tugas domestik, care giver semua anggota keluarga, dan perempuan ikut bekerja dalam sector formal dan informal (belum ada penelitian empirisnya)
b.   Indirect soct lebih besar daripada direct cost seperti lamanya sakit maupun saverity nya

Linda (KOWANI) mengatakan sharing tentang pembekalan kesehatan reproduksi kepada para TKI yang bekerja sama dengan PJTKI maupun BLK, sayangnya hanya terbatas pada tuntutan hak yang harus diterima oleh PJTKI.

Chatarina menjelaskan hal-hal yang dilakukan oleh PKBI dalam kemitraannya selama ini:
1.   Punya jaringan: menggaet berbagai macam instansi
2.   Accountable : melakukan audit eksternal setiap tahunnya dan tidak memakai auditor yang sama untuk beberapa tahun
3.   Ada transparasi dalam jaringan dari tingkat grash root hingga pusat
4.   Melakukan base line survey, karena inti dari aliansi adalah data base yang baik, sehingga mampu menarik lembaga donor untuk memberikan proyek
5.   Selalu ada laporan kegiatan dan laporan keuangan pada jaringan meskipun proyeksudah habis, maupun tidak diminta

APPI sendiri saat ini sedang membangun tunas-tunas baru dengan menyentuh para remaja untuk bergabung dengan APPI.


Jakarta, 23 Juli 2009
Logged
Pages: [1]
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.11 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!