PENTINGNYA PENENTUAN KELAMIN
PADA INTERSEKS
Oleh: Grathia Pitaloka
Saya terlahir dua kali. Pertama, sebagai perempuan pada suatu hari yang berkabut di tahun 1960. Lalu, sebagai remaja laki-laki di ruang
emergency Petoskey, Michigan, pada tahun 1974. Demikian kalimat yang dipilih Jefrey Eugenides sebagai pembuka novel
Middlesex yang memperoleh penghargaan Pulitzer kategori fiksi tahun 2003.
Novel yang dikerjakan Eugenides selama sembilan tahun ini bertutur mengenai keberadaan seorang yang memiliki alat kelamin ganda atau disebut interseks. Sebuah fenomena yang keberadaannya sering dinafikan di tengah masyarakat. ”Masyarakat awam cendeung tak bisa membedakan antara interseks dan transeksual” kata Dr. Ferryal Loetan, ASCT&T, SpRM, MMR, Kepala Instalasi Rehab Medik RS Persahabatan, Jakarta, Kamis (17/7).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan interseks sebagai orang yang memiliki organ seksual ganda
(ambiguous) pada saat lahir atau dengan kata lain disebut hermaprodit. Interseks merupakan variasi biologis dari sistem reproduksi maupun kromosom seks.
Awalnya hermaprodit hanya diakui dalam struktur biologis binatang, kemungkinan bahwa hal itu bisa terjadi pada manusia selalu disangkal. Sejak awal kita hanya diperkenalkan pada dua jenis kelamin, laki-laki atau perempuan.
Ferryal menjelaskan, kasus interseks dapat terjadi karena pembelahan yang tidak sempurna pada semester ketiga kehamilan. Pada waktu tersebut, apabila pembelahan terjadi dengan sempurna maka akan terbentuk vagina atau penis saja, tetapi pada interseks yang terbentuk keduanya.
Pembelahan yang tidak sempurna dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti ibu yang mengkonsumsi makanan dengan kandungan zat tertentu, obat-obatan, alkohol serta rokok. Secara psikologis, keinginan yang berlebihan terhadap jenis kelamin tertentu juga akan mempengaruhi si jabang bayi dalam kandungan.
Ferryal menambahkan, pembentukkan alat kelamin yang tidak sempurna juga merupakan hal yang paling ditakutkan ketika bayi lahir prematur. ”Karena alat kelamin berbentuk pada masa akhir kehamilan,” ujar dokter yang mengambil spesialis Rehabilitasi Medis serta mendalami
Sexual Rehab di USA ini.
Penelitian yang dilakukan The Intersex Society of North America (ISNA) menjelaskan, konsep interseks sebenarnya lahir dari
idealized platonic di dunia medis, bahwa manusia dibagi menjadi dua spesies sempurna yang dinamai perempuan dan laki-laki.
Laki-laki lahir dengan kromosom XY, memiliki testis dan penis, serta ciri seksual sekunder seperti kumis, jakun dan otot yang lebih kekar. Sementara perempuan terlahir dengan kromosom XX, memiliki vagina serta ciri seksual sekunder seperti payudara.
Interseks lahir di luar kelaziman, dengan kromosom XXY atau XYY. Mereka juga memiliki alat kelamin ganda yang dapat berkembang secara sempurna, yakni penis yang dapat ereksi serta vagina yang dapat menerima penetrasi. ”Ia memiliki sperma sekaligus sel telur,” kata Ferryal.
Pada interseks, tak hanya ciri primer seksual saja yang berkembang, tetapi juga ciri seksual sekunder seperti hormon. Dapat dibayangkan jika seseorang yang memiliki hormon estrogen dan progesteron sekaligus hormon testosteron. ”Ia akan memiliki payudara, jakun serta bulu dada, ” ujar angggota IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ini.
Namun, Ferryal mengatakan, interseks yang kedua alat kelaminnya berkembang secara sempurna amat jarang terjadi. Biasanya, hanya satu alat kelamin yang berfungsi, sementara yang lainnya tereduksi. ”Kasus interseks sempurna yang terakhir saya tahu terjadi di Eropa berapa puluh tahun lalu,” kata Ferryal.
Kondisi interseks sebenarnya dapat diketahui sejak dini, namun dengan situasi kurangnya informasi dan pengetahuan kondisi tersebut, maka baru dapat dideteksi menjelang dewasa. ”Biasanya mereka merasa ada penis yang tumbuh, padahal sebenarnya itu bukan penis melainkan klitoris yang memanjang, ” ujar Ferryal.
Pola asuh juga menentukan pembentukan alat kelamin dan jender seseorang. Usia 0-12 bulan merupakan usia yang paling menentukan apakah jenis kelamin seseorang itu berkembang menjadi laki-laki atau perempuan. Pada usia tersebut genital eksternal akan sensitif terhadap sentuhan. Sehingga, tak heran seorang bayi laki-laki mengalami ereksi penis dan bayi perempuan mengalami lubrikasi vagina. ”Bisa saja seorang interseks yang dibesarkan sebagai perempuan, alat kelamin laki-lakinya akan tereduksi begitu saja, begitu pun sebaliknya,” kata Ferryal.
Tak sekadar masalah alat kelamin, persoalan yang dihadapi kaum interseks juga melebar menjadi permasalahan identitas diri, dimana seseorang harus memiliki identitas jender yang jelas. ”Untuk itu, sebaiknya mereka menentukan jenis kelamin,” kata psikolog Prof Drs Koentjoro, MBSc, PhD.
Untuk itu, kata Koentjoro, seorang interseks akan menjalani pemeriksaan genetik, biologis serta psikologis. Dari hasil pemeriksaan dapat dilihat kecenderungan apakah ia cenderung laki-laki atau perempuan. ” Jika ia cenderung laki-laki maka akan diusahakan menjadi laki-laki seutuhnya dengan mereduksi hormon perempuan dan menyuntikkan testosteron, begitu sebaliknya,” ujar pria kelahiran 27 Februari 1955 ini.
Koentjoro mengatakan, suntik hormon tersebut tentu tak dapat dilakukan sembarangan, harus melalui pengawasan dokter karena akan memiliki dampak yang sangat besar. ” Tentu saja pelakunya harus konsisten, ” kata Koentjoro.
Sumber: Jurnal Nasional, Selasa 22 Juli 2008. Hal 11