|
meita
Guest
|
 |
« on: July 04, 2008, 01:25:12 PM » |
|
Vasektomi, Wujud Suami Sayang Keluarga
Sejak lama, program Keluarga Berencana dipercaya bisa meningkatkan kualitas hidup sebuah keluarga. Namun, sejak program ini diluncurkan target yang disasar selalu para istri. Dengan dasar rasa cinta dan tanggung jawab pada keluarga, para suamipun bisa menjadi sasaran KB, yakni dengan vasektomi. Pepatah boleh bilang banyak anak banyak rezeki. Pada kenyataannya, banyak keluarga beranak banyak hidup dengan kualitas yang rendah. Mereka tidak mampu memberikan gizi dan pendidikan yang baik sehingga sulit bagi keluarga itu untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Mempunyai tujuh anak (dua diantaranya meninggal dunia) tidak pernah terbayangkan oleh Sarwani (46). Warga Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ini sangat terkejut ketika empat tahun yang lalu, Alia (43), istrinya mengaku hamil. ”Waktu itu anak saya yang terkecil sudah duduk di kelas II SMP. Masak saya harus punya anak lagi,” kenang Sarwani. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek, dengan penghasilan Rp 20.000 – Rp 30.000 perhari, ini hanya bisa pasrah. Istrinya sudah berusaha mencegah kelahiran dengan ikut KB suntik. Namun, karena jadwal penyuntikan cukup lama, yakni tiga bulan sekali, Alia sering lupa datang menyuntik. ”Sebenarnya beberapa kali saya ingat kalau istri harus menyuntik. Namun, sering tidak punya uang karena biaya suntik Rp 15.000. Buat makan saja kurang, masak uangnya buat suntik,” kata Sarwani. Dia mengatakan, Alia telah mencoba mengganti suntik dengan minum pil KB yang harganya lebih murah, hanya Rp 1.000 – Rp 2.000 perbulan. Namun, pil itu membuat Alia merasa tak nyaman dengan tubuhnya. Pusing, mual, dan lemas. Alia juga sering merasa waswas akan hamil karena beberapa kali dia lupa meminum pil KBnya. ”Daripada istri saya tersiksa, lebih baik saya saja yang KB. Rasanya justru lebih mantap,” ujar Sarwani yang sekarang mengajak para lelaki di sekitarnya. Sudah lebih dari 30 orang laki-laki dibawa dia ke Badan Koordinasi Keluarga Berencana Daerah (BKKBD) Jakarta Selatan untuk divasektomi. Lain lagi alasan yang dikemukakan Sonson Sanusi. Kepala BKKBD Jakarta Selatan ini divasektomi karena istrinya tidak mungkin mengikuti KB karena mempunyai penyakit darah tinggi. ”Tetapi sebelum divasektomi, saya minta izin dulu pada istri. Keputusan ini harus menjadi keputusan berdua,” tegas Sonson. Sri Yono (37), warga Cilandak Timur RT 02 RW 07, menjadi laki-laki pertama yang menjalani operasi vasektomi di halaman Kecamatan Pasar Minggu, Selasa (6/5) pagi. Laki-laki yang sehari-hari berjualan telur atau ikan di pasar ini bersedia divasektomi karena anaknya sudah empat. ”KB istri saya jebol melulu. Kalau anaknya nambah lagi, mau dikasih makan apa,” kata Sri Yono.
Ereksi dan ejakulasi Menurut Sarwani, sebenarnya banyak suami yang ingin meningkatkan kualitas hidup keluarganya. Mereka juga tidak tega jika istrinya mengalami ketidaknyamanan dengan ber-KB. ”Tetapi mereka tidak tahu soal vasektomi,” ungkap dia. Para pria itu juga takut tidak bisa ereksi dan ejakulasi setelah divasektomi. Selain itu, ada juga suami yang menolak walaupun sudah mempunyai anak lebih dari dua orang. Alasannya sederhana, belum mempunyai anak laki-laki atau perempuan. Menurut dr. Asri, anggapan vasektomi membuat pria tidak bisa ereksi dan ejakulasi adalah anggapan yang salah. ”Vasektomi juga berbeda dengan kebiri.” Kebiri adalah pemotongan buah zakar. Akibatnya, pria tidak bisa lagi ereksi, tidak ada keinginan bersenggama, suara berubah, dan semua bulu yang ada di tubuh rontok. Sementara vasektomi adalah pengikatan saluran benih. Pria yang menjalankan vasektomi masih bisa ereksi dan ejakulasi. Saat ejakulasi juga masih mengeluarkan cairan semen.. ”Cairan yang dikeluarkan pria terdiri atas 85% semen dan 15% benih. Kalau yang 15% ini tidak keluar, perbedaannya tidak akan terasa,” kata Asri. Benih atau sperma yang tidak dikeluarkan akan mati sendiri dalam waktu 100 hari. Setelah mati, sperma akan dimakan oleh darah putih. ”Jadi tidak akan ada penumpukan sperma di tubuh.” Operasi vasektomi juga hanya memerlukan waktu 10 menit, dengan luka sayatan sekitar 0,5 cm. Setelah operasi, para pria hanya perlu beristirahat selama tiga hari dan puasa berhubungan seks selama tujuh hari.
Sumber: Kompas, Rabu 7 Mei 2008. Hal 26.
|