|
admin
|
 |
« on: February 04, 2009, 01:49:39 PM » |
|
Pengalamanku Oleh:Rosita, AM.Keb Teman-teman aku ingin cerita nih. Pengalaman pertamaku ketika pertama kali turun ke desa sebagai bidan PTT. Mungkin bagi teman-teman ini pengalaman yang biasa saja tapi bagiku ini merupakan hal yang istimewa yang aku rasakan sehingga ingin berbagi pada kalian semua.
Ceritanya diawali setelah kami semua di wisuda, masih terbayang betapa bahagianya waktu itu karena perjuangan kami yang penuh dengan lika-liku suka maupun duka akhirnya terlewati juga tapi kami agak sedih karena orang tua kami yang telah memperjuangkan kami selama ini yaitu kakak-kakak dari YPKP tidak dapat hadir tapi aku yakin pasti mereka juga ikut senang mendengar berita kelulusan kami.
Setelah menerima ijazah aku tidak membuang waktu lagi untuk membuat lamaran ke Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari tempat aku berasal di sela-sela waktu maganag di Klinik Bersalin Baiturrahim Kota Jambi kupikir mau jadi bidan desa itu mudah tapi ternyata tidak.
Aku bersama dua orang temanku Lia dan Yana yang sama-sama berasal dari Batanghari harus bolak-balik ke Dinkes ngurus ini dan itu bahkan kami tidak hanya mengurusnya di Kabupaten saja tapi sampai ke propinsi. Ternyata usaha kami tidak sia-sia, setelah sebulan menunggu SK penempatan kami sudah keluar, kami belum bisa lega karena ternyata banyak berkas-berkas lain lagi yang harus kami lengkapi. Disamping itu menjelang SPMT (Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas) dikeluarkan kami harus orientasi di dinas kesehatan kabupaten, hal ini mengingatkan aku kembali tentang ospek 3 tahun yang lalu ketika masuk kuliah di kebidanan hanya saja tidak ada bentak dan perintah aneh-aneh seperti kakak senior dulu, kami hanya diberi penjelasan tentang program-program yang ada, serta cara pelaporannya. Selain itu kami bertiga juga diberi nasihat dan bimbingan ketika berada di desa nanti. Meskipun dalam suasana berpuasa karena kebetulan bulan Ramadhan tidak menyurutkan semangat kami untuk mendatangi tiap-tiap program, butuh waktu satu minggu bagi kami untuk dapat bertamu dengan KABID (Kepala Bidang) dan KASInya untuk lebih mengetahui kerja di desa itu seperti apa. Hari yang dinanti telah tiba yaitu hari dimana SPMT kami diberikan dan pemberitahuan tempat kerja, dan ternyata kami bertiga ditempatkan di tempat yang berjauhan aku mendapat desa di wilayah kerja Puskesmas Selat Kecamatan Pemayung walaupun tidak kembali ke desa asal tapi masih di Kabupaten Batanghari nama desa tempatku kerja yaitu desa pulau raman. Untuk menjangkaunya aku harus menyeberangi sungai dulu. Sebelum ke desa aku harus orientasi dan melapor dulu di puskesmas induk yaitu Puskesmas Selat. Kkarena aku bidan baru yang belum punya pengalaman kerja, terutama di desa. Kepala Puskesmas meminta aku untuk belajar dulu selama satu bulan di puskesmas sebagai modalku waktu turun nanti.
Aku juga baru tahu kalau di desa tempat kerjaku itu ternyata belum ada penerangan listrik, ketika pertama kali aku kesana dan berkenalan dengan perangkat desanya. Dapat dibayangkan betapa sunyinya waktu malam dan yang lebih parah lagi ternyata sinyal handphone (HP) atau jaringan telepon ternyata juga sulit dicari. Aku bakalan jarang berkomunikasi dengan teman-teman dan keluarga, tapi melihat masyarakatnya yang ternyata sangat mengharapkan kehadiran bidan di desanya, rasa ragu ingin mundur aku singkirkan dulu. Menurut masyarakat, mereka sangat sulit untuk mencari pertolongan kesehatan karena harus mencari dulu di desa tetangga kalau tidak harus menyeberang sungai terlebih dahulu jadi mereka sangat mengharapkan agar aku nanti bisa betah tinggal di desa mereka. Akhirnya aku kuatkan hatiku untuk dapat tinggal di desa tersebut dengan segala kondisi yang ada.
Setelah sebulan aku di puskesmas induk aku telah belajar bagaimana membuat laporan, pengobatan-pengobatan dasar walaupun aku merasa belum cukup kemampuan tetapi kakak-kakak senior di puskesmas selalu membesarkan hatiku dan selalu bersedia membantuku apabila ada kesulitan. Akhirnya aku pindah ke desa dengan diantar oleh keluarga dengan membawa keperluan sehari-hari. Aku tinggal di Pustu yang terletak di ujung desa, hari pertama rasanya aneh karena waktu malam suasananya gelap sekali mau menghubungi teman tidak ada sinyal HP, pokoknya perasaanku tidak betah dan ingin pulang.. Besok harinya ternyata apa yag dikatakan masyarakat tentang pentingnya ada bidan disini terbukti karena aku diminta untuk mengobati salah satu masyarakat yang kena penyakit radang pada mulutnya hingga sukar untuk bicara/bengkak, jujur aku baru pertama menemukan penyakit ini. Jangankan untuk bicara penderita juga susah minum apalagi makan, iba dan kasihan aku melihatnya.
Aku bingung harus berbuat apa, karena aku belum pernah melihat penyakit ini sebelumnya. Untuk sementara setelah memeriksa keadaan fisik penderita aku berikan dulu obat-obat yang aku punya seperti analgetik, selanjutnya aku pun langsung berkonsultasi dengan dokter di puskesmas. Karena penasaran dokter pun ternyata ingin melihat langsung kondisi penderita. Dokter pun menganjurkan untuk dibawa ke rumah sakit saja. Menurut keluarganya, penderita sudah berulang kali dibawa ke rumah sakit namun tidak sembuh-sembuh, jadi mereka sudah kehabisan cara karena tidak satu rumah sakit saja yang didatangi. Dokter kemudian membaca hasil pemeriksaan sebelumnya yang ternyata pernah dilakukan biopsi tapi hasilnya menunjukkan radang biasa dan tidak bersifat ganas. Akhirnya menurut kesepakatan keluarga dan persetujuan dari dokter penderita dirawat di rumah dan aku yang merawat, mengontrol serta memberikan obat yang telah diberi penjelasan terlebih dahulu oleh dokter. Aku mneyimak dan mencatat dengan teliti jangan sampai ada yang terlupa sedikitpun.
Penderita pun langsung dipasang infus diberi cairan sesuai petunjuk dari dokter sementara kondisi penderita semakin melemah dan terus merintih kesakitan. Sambil melakukan tindakan akupun bertanya pada keluarga penyebab dari penyakit tersebut. Menurut mereka awalnya hanya seperti kena sariawan tapi lama-kelamaan menjadi radang dan akhirnya bengkak sampai ke bibir. Aku hanya dapat menyabarkan keluarga, selain itu aku juga akan berusaha semaksimal mungkin dalam memberikan perawatan dan mereka pun sangat berterimakasih padaku dan meminta keikhlasan dariku. Aku akan berniat untuk memberikan yang terbaik dari kesembuhan penderita meskipun harus bolak-balik keluar desa untuk terus konsultasi dengan dokter karena untuk berkomunikasi dengan telepon jaringannya sangat sulit dicari.. Aku sempat berpikir ternyata apa yang dikatakan dosen waktu kuliah dulu memang benar bahwa apabila sudah kerja di desa harus dituntut untuk tahu dan paling tidak mampu untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Hal ini memicu aku untuk tetap belajar. Satu minggu setelah perawatan, penderita telah menunjukkan perubahan yang baik. Bengkaknya sudah mulai mengecil dan sudah dapat minum meski sedikit dan sepertinya ada harapan untuk sembuh kembali.
Meskipun kondisinya sudah mulai membaik namun aku harus tahap berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti saran-saran yang dia berikan, pengobatan dengan pemberian suntikan melalui cairan infus perlahan-lahan mulai dihentikan. Setelah dua minggu penderita sudah mulai membaik dia pun meminta supaya infusnya dilepas saja. Awalnya aku menyarankan untuk tidak dilepas dulu karena penderita masih lemah dan belum dapat makan dengan baik tetapi karena diminta terus aku pun minta persetujuan dulu dari dokter. Setelah dokter mengizinkan, infusnya pun aku lepas tapi aku tetap menyarankan pada penderita untuk sering minum dan makan bubur yang lembut sekali. Hari ketiga setelah infusnya dilepas, mendadak kondisi penderita berubah buruk, tubuhnya semakin melemah dan suhu tubuh meningkat. Aku pun langsung bergegas untuk pasang infus lagi, namun setelah dicoba beberapa kali aku gagal.
Akhirnya aku pun kembali menghubungi dokter dan meminta untuk datang ke desa. Setelah memeriksa kondisi pasien, dokter pun menyimpulkan bahwa sudah tidak mampu lagi di atasi di rumah dan harus segera dibawa ke rumah sakit tetapi menurut keluarga penderita mereka sudah pasrah dan kehabisan biaya untuk pengobatan. Keluarga penderita bersepakat untuk menerima keadaan apapun yang terjadi nantinya. Aku pun tidak dapat berbuat banyak dan berharap terjadi keajaiban bahwa penderita sembuh kembali. Teman-teman tahu tidak apa yang terjadi?! Dua hari kemudian penderita tersebut akhirnya meninggal dunia. Aku sedih sekali mendengar beritanya. Ada perasaan bersalah dalam hatiku karena telah gagal merawatnya sampai sembuh bahkan ini merupakan penderita pertama yang kurawat di desa. Berita ini pun aku kabarkan juga pada dokter yang selama ini sama-sama merawat penderita dan dia pun juga merasa sedi. Namun kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk merawatnya. Akupun selalu mengikuti petunjuk yang diberikan dokter, tetapi aku tidak boleh selalu menyalahkan diriku, yang penting aku selalu mengerjakan segalanya sesuai jalur dan selalu bekonsultasi dengan dokter. Pengalaman ini akan aku jadikan pelajaran.
Satu bulan sudah aku tinggal di desa Pulau Raman. Aku sudah dapat menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Kegiatan seperti pengajian, karang taruna serta pertemuan-pertemuan desa lainnya sering aku ikuti. Setiap bulannya aku dengan dibantu beberapa kader posyandu rutin mengadakan posyandu walaupun masih banyak juga ibu-ibu yang tidak membawa anaknya ke posyandu tapi aku agak puas ternyata masih ada yang mau datang. Begitu juga dengan kunjungan ibu hamil hanya lima belas orang ibu hamil yang mau diperiksa ataupun imunisasi. Aku dapat memaklumi mungkin sebagian mereka belum mengetahui keberadaan bidan di desa mereka dan aku berniat bagaimana pun akan aku usahakan supaya ibu hamil dan balita di desaku selalu rajin ke posyandu. Sedangkan untuk berobat umum/sakit biasa dalam seharinya ada sekitar satu sampai dua kunjungan namun ada pula yang menjemput ke rumah mereka.
Menurut taksiran persalinan, perkiraanku di bulan ini ada sekitar lima ibu hamil yang akan melahirkan jadi aku berniat untuk tidak keluar dari desa selain keperluan mendadak meskipun menurut masyarakat, persalinan di desa ini masih dipercayakan pada dukun bayi apabila sudah dapat ditolong dukun baru mereka mau memanggil bidan desaku terdiri dari 5 RT yang jumlah penduduk 1375 jiwa dan ada 2 orang dukun bayi yng dipercayakan untuk menolong persalinan.
Suatu siang, seorang laki-laki setengah baya datang ke Pustu (puskesmas pembantu) tempat aku tinggal. Aku ingat sepertinya laki-laki itu pernah mengantar istrinya periksa hamil dan ternyata istrinya sudah mau melahirkan, sambil menyiapkan alat-alat dan obat-obat yang diperlukan aku berpikir sepertinya masyarakatnya sudah mulai beralih pada bidan untuk pertolongan persalinan, ternyata dugaanku salah karena sudah ada dukun yang datang terlebih dulu dipanggil kehadiranku hanya diminta untuk memberi obat perangsang his/kontraksi yang lebih dikenal masyarakat ’suntik wat’ dan aku pun menjelaskan dampak dan kemungkinan yang terjadi bila tidak ada indikasi.
Teman-teman tahu tidak? Waktu aku deg-deg-an karena ini persalinan pertama yang aku tolong sendiri setelah tamat kuliah. Biasanya aku didampingi dosen pembimbing atau bidan senior di tempatku tapi kini aku harus dituntut mampu untuk melakukan sendiri tanpa bimbingan siapa pun dengan bermodal pengetahuan yang ada aku kuatkan kalau aku pasti bisa menyelamatkan calon bayi dan ibunya itu meskipun hatiku sedikit was-was tetapi aku tetap memperlihatkan ekspresi wajah yang tenang dan tidak gugup. Aku baru tahu ternyata kebiasaan menolong persalinan di desa oleh dukun itu dengan cara mendorong perut ibu bersalin yang bukan didorong dengan satu orang melainkan 3 sampai 4 orang. Ya ampun alangkah kasihan ibu tersebut, maka aku pun memberi pengertian bahwa cara tersebut kurang baik dan kalaupun ingin membantu mendorong hanya satu orang saja itupun tidak dengan menggunakan tenaga yang penuh dan akhirnya setelah diberi penjelasan apa yang terjadi apabila perut ibu didorong apalagi beramai-ramai akan mengakibatkan perdarahan dan gawat janin mereka pun mengerti dan menyerahkan semua padaku dan dukun bayi.
Aku hampir lupa mau kenalin calon pasien pertama yang akan kutolong ini namanya Ny. A dan ini merupakan persalinan ke empat umurnya masih muda baru sekitar 24 tahun maklum kebiasaan menikah usia muda masih berlaku di desa ini. Selama satu bulan aku di desa dia rajin periksa kehamilannya. Alat-alat dan obat-obatan yang kubawa telah aku siapkan, dan akupun menanyakan pada keluarga ibu A, apakah sudah mempersiapkan pakaian dan popok bayi serta perlengkapan untuk ibunya, mereka bilang sudah disiapkan tapi harus disimpan dulu sampai bayinya lahir itu menurut kepercayaan mereka.
Kondisi Ny. A sepertinya memang waktunya dan boleh dipimpin mengedan dengan sakitnya yang teratur aku pun mengajari cara bernafas dan mengedan yang baik, tak lama ketuban menonjol dan aku pecahkan dan tak lama kemudian karena kontraksi ibu itu baik maka kepala bayi sudah kelihatan dan dengan dua kali mengedan panjang akhirnya bayinya lahir dan langsung menangis keras. Setelah suntikan oksitosin serta plasenta telah lahir aku langsung mengurus bayi dan dukun mengurusi ibunya. Aku jadi terharu ternyata bayi dan ibunya berhasil aku selamatkan. Keluarga Ny. A meminta aku untuk membuatkan nama pada bayi mereka. Karena kelahirannya pada tanggal 2 Desember 2008 jadi aku beri nama Denis. Aku menganjurkan agar Ny. A hanya memberinya ASI saja selama 6 bulan serta rajin membawanya ke posyandu. Denis...semoga kelak kamu menjadi anak yang pandai dan sehat ya..
Teman-teman demikian dulu ceritaku, mungkin teman-teman punya cerita yang lebih seru dan unik lagi. Kapan-kapan cerita juga ya..
|