YPKP Forum
September 04, 2010, 10:46:35 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: SMF - Just Installed!
 
   Home   Help Search Gallery Login Register  
Pages: [1]
  Print  
Author Topic: Pencegahan HIV & AIDS melalui Upaya Bio Medik  (Read 907 times)
admin
Administrator
Jr. Member
*****
Posts: 89


View Profile Email
« on: January 08, 2009, 10:59:02 AM »

Laporan Seminar
“Pencegahan HIV & AIDS Melalui Upaya Bio Medik"


Seminar yang diselenggarakan oleh MPAI (Masyarakat Peduli AIDS Indonesia) dalam rangka memperingati Hari AIDS se-Dunia 2008 dimoderatori oleh Husein Habsyi (Yayasan Pelita Ilmu) pada tanggal 23 Desember 2008 di Aula Fak. Kedokteran UI Salemba. Para pembicara yang hadir adalah:
1.   Prof. Dr. Samsuridjal Djauzi, Sp. PD-KAI (Pokdisus AIDS RSUPN-CM) tentang “Pengobatan ARV dan OAT”
2.   Nurul Arifin (Aktivis HIV/AIDS) tentang ”Sunat pada Laki-laki”
3.   Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM (Ketua MPAI) tentang ”Pencegahan HIV/AIDS melalui Upaya Bio Medik”
4.   Dr Adi Sasongko, MPH, MA (Yayasan Kusuma Buana) tentang ”Kondom Seratus Persen”
5.   Dian, (Perwakilan orang dengan HIV/AIDS), menceritakan kisah hidupnya.

Prof. Samsuridjal mengatakan bahwa ada perubahan dalam perkembangan AIDS, yaitu adanya peningkatan cara penularan HIV melalui jarum suntik, penularan HIV melalui hubungan seksual tidak aman masih belum terkendali, dan tersedianya obat ARV generik yang efektif dan harganya lebih terjangkau.
Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa saat ini, kita berada dalam era:
1.   HIV/AIDS merupakan penyakit kronik yang dapat dikontrol
2.   Seperti penderita hipertensi, dan diabetes melitus. Odha juga dapat hidup produktif dengan kualitas hidup yang lebih baik.
3.   Penderita HIV/AIDS di Indonesia terdiagnosis biasanya pada stadium lanjut, sehingga perlu upaya untuk meyebarluaskan layanan VCT

Layanan VCT penting dilakukan untuk membantu klien dalam mengambil keputusan, karena dalam layanan VCT klien mendapatkan informasi yang benar dan lengkap. Klien juga dipersiapkan untuk menerima hasil tes, baik positif maupun negatif.
Ada beberapa pertanyaan dasar tentang pengobatan HIV/AIDS yang sering ditanyakan, yaitu: kapan mulai dilakukannya pengobatan, kombinasi obat apa saja yang digunakan, kapan obat diganti dan bagaimana memantau hasil pengobatan.
Terapi ARV dimulai saat terdiagnosa HIV positif, AIDS, CD4 kurang dari 200 atau limfosit total kurang dari 1200. Sebelum memberikan terapi ARV, harus dijelaskan informasi tentang ARV, baik manfaat dan efek samping; pemahaman tentang kepatuhan (adherens) karena akan berpengaruh terhadap hasil terapi, mempengaruhi terjadinya resistensi, dan penggantian obat ARV ke lini 2 yang lebih mahal dan lebih rumit; penilaian kesiapan pasien dan keluarga; mengatasi masalah adiksi narkoba; dan pembentukan jaringan untuk menjamin layanan yang berkesinambungan.
Prinsip pemberian ARV adalah indikasi pemberian harus sesuai dengan pedoman WHO, pilihan obat dan dosis sesuai pedoman WHO. Jika menderita infeksi oprtunistik terutama TBC maka obat ARV dapat ditunda beberapa bulan. harus diwaspadai gangguan fungsi hati karena sebagian odha juga dengan ko-infeksi hepatitis C.
Indikasi Mengganti terapi ARV adalah jika ditemukan adanya kegagalan dan toksisitas ARV. Hasil dari pengobatan ARV adalah perbaikan klinis yang nyata, ODHA menjadi produktif dan setelah 6 bulan terapi sebagian besar viral load undetectable.
Pembicara kedua, Nurul Arifin, menjelaskan tentang sunat pada laki-laki mampu menurunkan resiko penularan HIV/AIDS. Sunat atau sirkumsisi berasal dari bahasa latin, yaitu Circum (memutar) dan Caedere (memotong). Sunat adalah menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup kulup.
Berdasarkan penelitian, bahwa waktu sunat pada laki-laki yang tepat adalah saat usia 13-14 tahun, karena jika sunat dilakukan pada usia kurang dari 10 tahun, masih dalam pertumbuhan, kulit penis dan penis masih dalam tahap perkembangan.
Nurul Arifin juga memaparkan tentang sunat sifon yang dilakukan oleh Suku Atoni Meto di NTT. Sunat sifon merupakan hubungan seks pasca sunat yang wajib dilakukan seorang laki-laki saat luka sunat belum sembuh. Hubungan Seks ini dilakukan dengan perempuan lain, selain istrinya untuk membuang panas, hal ini dikaitkan dengan ”kejantanan” pada laki-laki. Tujuan dari buang panas adalah agar organ seks laki-laki berfungsi baik. Bila sifon sudah dilakukan, maka laki-laki tersebut tidak boleh lagi berhubungan seks dengan perempuan tersebut seumur hidup.
Perempuan yang menjadi pasangan dalam hubungan seks tersebut dianggap akan memperoleh berkah, sehingga tidak sedikit perempuan yang bersedia memiliki ”pekerjaan” menjadi pasangan bagi setiap orang yang melakukan sunat sifon. Perempuan yang menjadi pasangan sunat sifon akan memperoleh mahar atas jasanya. Bahkan para dukun sunat dapat menyediakan perempuan pasangan sunat bagi yang belum menemukan pasangannya.
Isu sunat menjadi isu politik, karena sebagian pihak menilai bahwa sunat adalah sebagai salah satu cara islamisasi, padahal bukankah kita melihat bahwa ada banyak manfaat sunat bagi kesehatan?
Manfaat sunat bagi kesehatan:
1.   Mencegah penularan HIV/AIDS sebesar 33,3%
2.   Mencegah terjadinya kanker penis
Smegma (kotoran) yang tertimbun dalam preputium (kulit bagian atas kulup penis)
3.   Mencegah terjadinya kanker rahim
4.   Mencegah terjadinya Phimosis
5.   Mencegah terjadinya Condiloma Akuminata
6.   Mencegah terjadinya penyakit akibat jamur dan infeksi lainnya

Prof.. Zubairi Djoerban mengatakan bahwa upaya pencegahan penularan HIV yang benar adalah melalui kombinasi 3 strategi, ketiganya perlu dikerjakan secara serentak, yaitu:
1.   Upaya biomedik
a.   ARV
b.   Sunat/ sirkumsisi
c.   Kondom
d.   PMTCT
e.   Pengobatan penyakit menular seksual
2.   Upaya struktural
a.   Ekonomi, budaya, hukum, pendidikan
b.   Kesetaraan gender
3.   Perubahan Perilaku

Dr Adi Sasongko mengatakan bahwa kondom sudah dikenal sejak jaman Mesir Kuno (1000 BC). Jika melihat perspektif sejarah dapat disimpulkan bahwa seks bebas sudah ada sebelum kondom hadir. Bukti=bukti di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pelanggan penjaja seks (85-90%) tidak menggunakan kondom (Depkes/ASA/BPS) dan penelitian pada remaja yang mendapat informasi pencegahan AIDS berdampak menurunnya jumlah pasangan seksual dan frekuensi hubungan seks yang beresiko (Guttmacher S, et al dalam American Journal of Public Health) 1997,87,1427-1433)
Jika ada pernyataan yang menyatakan bahwa kondom merupakan penyebab seks bebas, maka hal ini dapat dibantah, karena ada banyak hal penyebab seks bebas, diantaranya adalah pengaruh pergaulan/ kelompok sebaya (peer pressure), pengaruh alkohol atau narkoba, keterpaparan pada media pornografi dan kualitas hubungan suami istri yang kurang baik.
Kondom memiliki fungsi ganda, yaitu selain sebegai alat kontrasepsi (mencegah kehamilan) juga mampu mencegah penularan infeksi menular seksual. Efektivitas kondom dipengaruhi oleh kualitas kondom dan cara pemakaiannya (mulai dari membuka bugkus, memakai dan melepasnya)
Untuk memperoleh kondom yang berkualitas, maka hal yang perlu diperhatikan adalah:
1.   Beli kondom di tempat yang terjamin. Jangan membeli kopndom dari pedagang eceran di pinggir jalan seperti di pedagang rokok
2.   Beli kondom yang kondisi kemasannya masih baik
3.   Jangan beli kondom yang sudah kadaluarsa
4.   Jangan menyimpan kondom yang sudah kadaluarsa
5.   Jangan menyimpan kondom dalam dompet atau saku belakang (karena tergesek-gesek oleh posisi tubuh sewaktu duduk)

Cara pemakaian kondom:
1.   Buka/ sobek bungkus kondom terlebih dahulu dengan menggeser posisi kondom ke tepi (agar tidak tergores kuku)
2.   Pasang kondom sebelum melakukan penetrasi penis ke vagina (bukan menjelang ejakulasi)
3.   Pasang kondom dalam posisi penis sedang ereksi
4.   Pasang kondom dengan posisi cincin ada di sebelah luar
5.   Pada saat memasang kondom maka bagian ujungnya (”pentil”) harus ditekan untuk mengeluarkan udara di dalamnya.
6.   Kondom dipasang sampai menutupi seluruh batang penis
7.   Setelah dipakai, kondom dilepas setelah terjadinya ejakulasi dan sewaktu penis masih dalam posisi ereksi. Jika kondom dilepas setelah penis lemas, ukuran penis akan mengecil dan air mani di dalam kondom akan mengalir ke luar sehingga tetap bisa terjadi kehamilan atau penularan penyakit.

Berdasarkan laporan Consumer Report 1989 no 5 (3): 135-141 bahwa kondom yang diregang diperiksa di bawah mikroskop elektron (pembesaran 30.000 kali) tidak memperlihatkan adanya pori-pori kondom
New England Journal of Medicine, 11 agustus 1994 meneliti 245 pasangan diskordan (dari setiap pasangan maka salahsatunya HIV+). Pada pasangan yang konsisten memakai kondom dalam setiap hubungan seks: tidak ditemukan adanya penularan (transmisi) HIV. pada 121 pasangan lainnya yang tidak konsisten menggunakan kondom ditemukan penularan HIV pada 12 orang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kodnom efektif untuk mencegah penularan HIV.
National Institues of Health (20 juli 2001) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa kondom efektif untuk mencegah kehamilan, HIV dan Gonorea. Untuk PMS jenis lain data yang ada belum memadai untuk diambil kesimpulan. Namun kondom memang tidak memberikan jaminan pencegahan 100% karena tidak ada alat pencegahan yang bisa memberi jaminan 100%.

Logged
Pages: [1]
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.11 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!