|
admin
|
 |
« on: September 15, 2008, 09:01:10 AM » |
|
Mereka (Lansia) Juga Butuh Perhatian RACIKAN UTAMA - Edisi Juni 2007 (Vol.6 No.11), oleh andra Pada 29 Mei lalu jatuh di hari Rabu. Mungkin sebagian besar orang hanya menganggapnya seperti hari Rabu biasa. Dan, mungkin juga tidak banyak yang tahu bahwa setiap 29 Mei sejak tahun 1996, Indonesia merayakan Hari Lanjut Usia Nasional (Halun). Adalah Dr. KRT Radjiman Wediodiningrat, orang yang dianggap berjasa merekomendasikan perlu adanya Halun di Indonesia. Sebenarnya, Halun merupakan implikasi dari resolusi PBB No 045/206 tahun 1991 yang meminta perlunya perhatian dunia internasional terhadap penduduk lansia. Di dunia, Hari Lanjut Usia Internasional dirayakan setiap 1 Oktober.
Setelah 11 tahun merayakan Halun, bagaimana nasih lansia di Indonesia? Apakah membaik atau memburuk? Mungkin di alam baka sana, Dr. Radjiman meneteskan air mata ketika membaca data terbaru dari Pusat Data dan Informasi Departemen Sosial – hasil kerjasama dengan Badan Pusat Statistik – yang menyebutkan sekitar 1.564.286 orang (10 %) dari seluruh lansia di Indonesia yang berjumlah 16.522.311 orang berkategori sebagai lansia terlantar. “Pengertian lansia terlantar adalah lansia dengan usia di atas 60 tahun yang tidak punya penghasilan, tidak punya tempat tinggal, dan atau tinggal bersama dengan keluarga miskin,” kata Tunggal Sianipar, Direktur Pelayanan Lanjut Usia Departemen Sosial, seperti dimuat dalam situs Portal Nasional Republik Indonesia (www.indonesia.go.id). Sungguh angka yang mencengangkan!
Secara logika, kita dapat mengklaim bahwa dengan semakin banyaknya jumlah lansia berarti angka harapan hidup seseorang bertambah. Di sisi lain, jumlah lansia yang semakin banyak justru menjadi bumerang jika tidak disertai penanganan yang tepat. Banyak masalah kesehatan yang harus dihadapi oleh kaum lansia. Dalam hal kesehatan reproduksi, misalnya. Seiring pertambahan usia, perempuan suka tidak suka akan memasuki masa menopause. Pada masa itu, terjadi perubahan kadar hormon reproduksi (terutama estrogen) yang dapat menyebabkan berbagai perubahan psikologis. Keadaan itu sebenarnya bukan suatu penyakit, melainkan suatu proses yang menjadi bagian dalam perjalanan hidup wanita. Walaupun demikian, beberapa wanita dapat merasa terganggu bahkan hingga depresi dalam menghadapi berbagai perubahan tersebut, sehingga terkadang membutuhkan suatu penanganan khusus.
Penurunan kadar hormon ini menyebabkan perempuan mengalami sindrom defisiensi estrogen meliputi gangguan vasomotor, perubahan metabolik, dan gangguan psikologis. Gangguan vasomotor diantaranya adalah gejolak panas (hot flush) dan berkeringat banyak. Sementara, gejala psikologis yang sering timbul antara lain depresi, cemas, sakit kepala, insomnia, mudah lelah, gangguan gairah seksual, dan penurunan fungsi kognitif terutama fungsi daya ingat. Tak dapat dipungkiri, keluhan sindrom defisiensi estrogen itu akan membawa dampak negatif terhadap peran aktif perempuan tersebut dalam lingkup keluarga, masyarakat, dan pekerjaan. Ujung-ujung-nya, kualitas hidup menurun.
Contoh lain, infeksi. Paus Yohanes Paulus II adalah salah satu tokoh dunia yang meninggal karena menderita penyakit infeksi yaitu infeksi saluran nafas dan saluran kemih. Terakhir, hipertensi. Bisa dibilang, penyakit ini menjadi ‘santapan’ para lansia. Studi Framingham melaporkan bahwa setelah usia pertengahan dan lansia, sekitar 90% dari mereka mengalami hipertensi sepanjang sisa hidupnya. Semua itu berawal dari efek penuaan pada pembuluh darah. Pembuluh darah yang dulu elastis menjadi kaku. Kemampuan autoregulasi berkurang. Malah yang terjadi adalah penyempitan pembuluh darah karena penimbunan lemak. Maka dari itu, jelas terlihat kaum lansia mudah sakit-sakitan. Ironisnya, kondisi itu malah membuat mereka semakin dikucilkan karena anggota keluarga merasa kerepotan untuk mengurus mereka. Pergeseran nilai-nilai budaya telah membawa perhatian masyarakat terhadap masalah lansia berkurang.
Segelintir orang mengganggap panti jompo sebagai solusi. Panti jompo bak dua sisi mata uang. Di satu sisi, kaum lansia memperoleh kebahagiaan karena berada di lingkungan yang senasib dengan mereka. Tapi di sisi lain, mereka merasa kesepian dan tidak berguna (etena syndrome). Mereka akan merasa lebih nyaman berada di tengah keluarga, berkumpul bersama anak dan cucu. Padahal, meski usia dan fisik sudah uzur, mereka masih dapat berkarya. Tinggal bagaimana cara kita memotivasi agar mereka dapat mengaktualisasi diri secara optimal, seperti halnya Paus Yohanes Paulus II yang masih mampu memimpin sakramen di tengah kondisi kritisnya. (Felix)*diambil dari http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=489. Diakses tanggal 15 September 2008
|